Get Adobe Flash player

alt"Wahai penanggungjawab anak, jika anda lemparkan tang-gungjawab pendidikan mereka ke tempat-tempat asuhan anak, saya khawatir anda akan menerima siksa ganda. Siksa pedih sebab anda membiarkan mereka yang bersih itu menjadi tercemar dan balasan setimpal akibat perlakuan anda yang keji itu."
Maka Rasulullah saw. membebankan tanggung jawab pendidikan anak itu sepenuhnya di pundak orang tua. Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda,
"Masing-masing kalian adalah pemimpin. Masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemim pinannya, seorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinan nya, wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya, begitu juga pel&yan adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertang' gungjawaban terhadap kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya." (Muttafaq 'Alaih)
Bahkan Rasulullah saw. telah meletakkan sebuah kaidah dasar yang intinya adalah bahwa seorang anak itu akan tumbuh dewasa sesuai dengan agama orang tuanya. Kedua orang tualah yang besar pengaruhnya terhadap mereka.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah anak yang dilahirkan itu melainkan lahir dengan membawa fitrah. Maka orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor binatang ternak yang melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna (tanpa cacat), apakah lantas kamu lihat terdapat cacat pada telinganyal"

Kemudian  Abu Hurairah membaca firman Allah SWT. "(Demikian itu adalah) fitrah Allah, manusia diciptakan menurutnya. Tiada perubahan dalam ciptaan (fitrah) Allah. Itulah agama yang lurus." (Rum: 30)
Tanggung jawab pendidikan anak dibebankan di atas pundak orang tua, Allah swt. berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu  dari api neraka (yang) bahan bakarnya adalah manusia dan batu; dijaga oleh malaikat  yang  keras  dan kasar, tidak  mendurhakai  Allah  terhadap ,,    apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6)
Menurut Sayidina Ali, maksud firman Allah, "jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...," adalah "Ajarkanlah kebaikan kepada dirimu dan keluargamu"

Imam Fakhrur Rozi menerangkan dalam tafsirnya bahwa "Jagalah  dirimu dan keluargamu..." adalah perintah-terhadap diri dan keluarga untuk meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.

Menurut Muqatil, "Seorang muslim hendaklah mendidik diri dan keluarganya, memerintah mereka agar melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan."
Dalam Tafsir AI-Kasysyaf  diterangkan, "jagalah dirimu" dengan cara meninggalkan kemaksiatan dan menjalankan ketaatan "dan keluargamu" dengan memperingatkan mereka sebagaimana kamu memperingatkan dirimu.
Upaya perbaikan terhadap anak dan meluruskan kesalahan, serta membiasakan mereka melakukan kebaikan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terus menerus. Itulah jalan para Nabi dan Utusan Allah. Nabi Nuh telah menyeru putranya agar beriman. Nabi Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya agar beribadah kepada Allah semata^-Begitu juga Nabi-nabi lainya.

Dalam kitab Bustanul Arifin, Imam Nawawi menyebut sebuah riwayat_dari Imam Syafi’I dan Fudhail, Nabi Dawud as. Berkata “ Ya Tuhan, jadilah Engkau milik anakku sebagaimana Engkau adalah milikku!" Lalu Allah berfirman, "Wahai Dawud, katakan kepada anakmu agar ia menjadi milik-Ku seperti engkau adalah milik-Ku, maka Aku akan menjadi miliknya seperti Aku adalah milikmu."

Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali dalam risalah "Ayuhal Walad (Wahai Anak)" mengumpamakan proses tarbiyah (pendidikan) itu bagaikan usaha petani mencabuti duri-duri dan membuang tumbuhan asing dari tanamannya agar tumbuh dengan baik dan sempurna.
Ibnu Qayyim menegaskan masalah tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak dengan menukil pendapat ahli ilmu yang menyatakan bahwa pada hari kiamat nanti orang tua akan ditanya terlebih dahulu tentang anak-anaknya sebelum mereka ditanya tentang orang tua mereka. Orang tua wajib menunaikan hak anaknya, sebagaimana anak pun wajib menunaikan hak orang tua mereka. Allah berfirman,
"Dan Kami berwasiat kepada manusia agar berlaku baik terhadap or- angtuanya." [Al-Ankabut:7]
"Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu!" [At-Tahrim:7]
"Sembahlah Tuhanmu dan janganlah kamu menyekutukan-Nya sama sekali, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua dan kaum kerabat..." [An-Nisaa: 26]

Nabi saw. bersabda, "Berlaku adillah kepada anak-anakmu!" Sebab, wasiat Allah untuk orang tua terhadap anak mereka mendahului wasiat-Nya untuk anak terhadap orang tua mereka. Allah swt. berfirman untuk para orang tua,
"Janganlah kamu bunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rizki kepada mereka dan..kepadamu. Sesungguhnya^ melakukan pembunuhan terhadap mereka adalah dosa besar."  [Al-Isra':31]

Selanjutnya Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “ Barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dan membiarkannya begitu saja, berarti ia telah melakukan keburukan yang teramat keji. Timbulnya kerusakan dalam jiwa anak sering diakibatkan oleh orang tua mereka sendiri. Pendidikan mereka diabaikan. Pengajaran kepada mereka tentang kewajiban dan sunah-sunah agama ditinggalkan. Sewaktu kecil mereka telah disia-siakan, wajar ketika dewasa mereka menjadi orang yang tidak berguna baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang tua mereka. Akhirnya ada sebagian anak yang mencaci orang tuanya sendiri, Wahai ayah, sewaktu masih kecil engkau telah mendurhakaiku maka kini aku pun mendurhakaimu. Sejak dilahirkan aku telah engkau sia-siakan, kini aku pun menyia-nyiakanmu di usia tuamu'."

Pernikahan dan anak keturunan adalah anugerah Allah yang akan ditanyakan di hari kiamat. Rasulullah saw. bersabda yang disampaikan oleh Abu Said Al-Khudri dan Abu Hurairah ra., "Pada hari kiamat nanti, seorang hamba akan dipanggil di hadapan Allah dan ditanya, 'Bukankah Aku telah menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, harta dan anak? (Dalam riwayat lain ditanyakan, 'Bukankah Aku telah nenikahkan kamu?') 'Bukankah Aku telah menaklukkan binatang ternak dan ladang untukmu? Bukankah Aku telah membiarkanmu berkuasa dan hidup? Apakah dulu kamu menyangka bahwa kamu akan bertemu dengan harimu ini?'"
Dijawab: "Tidak." Maka Allah pun berfirman, "Pada hari ini Aku melupakan dirimu seperti dahulu kamu melupakan-Ku."

Pendidikan bukan sebagai pemberian atau hadiah, melainkan hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua. Demikianlah yang ditegaskan oleh Nabi kita, bahwa orang disebut sebagai abrar orang-orang yang berbakti) karena mereka telah berbuat kebaikan, baik kepada orang tuanya maupun kepada anak-anaknya. Sebagaimana kamu punya hak atas-anakmu,- begitupula anakmu-punya hak atas dirimu. (Imam Bukhari dalam Adab Mufrad). (sumber : buku cara nabi mendidik anak.)